Hampir setengah miliar dolar. Angka yang tidak main-main.
Washington mengklaim berhasil menyita aset kripto Iran senilai total mendekati 500 juta dolar AS, atau setara Rp8,6 triliun. Rinciannya, kata Menteri Keuangan Scott Bessent kepada Fox Business: sekitar 350 juta dolar tersita dalam tahap pertama, kemudian tambahan 100 juta dolar menyusul tidak lama berselang. "Jadi totalnya hampir mencapai setengah miliar," ujarnya, sebagaimana dikutip RIA Novosti.
Operasi ini berjalan di bawah nama "Economic Fury", inisiatif yang diluncurkan Departemen Keuangan AS pada 16 April. Pengumumannya waktu itu datang dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth, bukan Bessent, yang menyebut operasi tersebut dirancang untuk memaksimalkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Yang patut dicatat: penyitaan ini bukan lewat pembekuan rekening bank biasa. Washington memburu jalur kripto, yang selama ini jadi pilihan negara-negara terkena sanksi untuk berkelit dari sistem perbankan global. Kalau data ini bisa dipercaya, ini sinyal serius bahwa otoritas AS kini punya kapasitas baru untuk menutup celah itu.
Sementara tekanan dari barat makin mengencang, Beijing bergerak ke arah sebaliknya.
Cina dilaporkan memerintahkan perusahaan-perusahaannya untuk melawan sanksi AS. Timing-nya, entah kebetulan atau tidak, persis menjelang rencana kunjungan Presiden Trump ke Beijing. Pesan diplomatik, tapi disampaikan bukan dari meja perundingan, melainkan lewat kebijakan korporat.
Dua manuver yang saling beradu. AS mendorong isolasi ekonomi Iran, sedangkan Cina, mitra dagang utama Teheran, justru membentengi perusahaannya dari jangkauan sanksi Washington. Bisa jadi ini sekadar kartu tawar jelang pertemuan Trump-Xi. Tapi bisa jadi juga Beijing sudah bosan sekadar menonton.
Bagi investor dengan eksposur ke sektor energi atau aset yang rentan guncangan geopolitik Timur Tengah, konstelasi ini bukan sekadar berita luar negeri. Ketegangan AS-Iran yang kini merembet ke jalur ekonomi digital, ditambah resistensi terbuka Cina terhadap sanksi, adalah kombinasi yang, secara historis, jarang selesai hanya di atas kertas.