Penjualan bersih Rp2,91 triliun. Dividen naik. Kapasitas produksi diperluas. Sepanjang 2025, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) agaknya berhasil membuktikan bahwa produsen keramik domestik masih punya ruang tumbuh, bahkan saat daya beli tertekan dan sektor properti belum sepenuhnya pulih.
Penjualan bersih perseroan tumbuh 10,71% secara tahunan, dari Rp2,63 triliun di 2024 menjadi Rp2,91 triliun di 2025, ditopang kenaikan volume penjualan di lini produk Arwana, UNO, ARNA, dan lini baru GLORIA. Pertumbuhan dua digit ini bukan angka yang mudah diraih saat kondisi industri tidak sedang dalam momentum terbaiknya.
Dari sisi bottom line, laba bersih tercatat Rp400,48 miliar, setara laba per saham Rp55,93. Turun dibanding tahun sebelumnya. Biang keroknya jelas: harga gas. Rata-rata harga pembelian gas melonjak dari US$6,68 per MMBtu di 2024 menjadi US$8,03 per MMBtu di 2025, kenaikan sekitar 20% yang cukup menggerus margin. Net profit margin akhirnya parkir di 13,74%.
Struktur keuangan ARNA, terlepas dari tekanan gas itu, tetap terlihat solid. Current ratio 193%, debt-to-equity ratio hanya 49%, dan kas serta setara kas berada di Rp377,94 miliar. Total aset naik 8,36% menjadi Rp2,88 triliun, sebagian besar didorong lonjakan aset tetap sebesar 25,93% seiring realisasi belanja modal yang cukup agresif sepanjang tahun.
Belanja modal itu bukan sekadar angka di neraca. Perseroan meremajakan mesin di beberapa lini produksi, termasuk transformasi kiln Plant 2C Line 1 dari sistem double firing ke single firing demi efisiensi energi yang terukur. Plant 4D juga rampung dibangun, siap memproduksi porselen lantai berukuran besar yang masuk segmen premium. Investasi yang lumayan masif, dengan taruhan bahwa efisiensi dan portofolio produk yang lebih kaya akan terbayar dalam beberapa tahun mendatang.
Nah, dari semua angka itu, yang paling langsung terasa buat pemegang saham tentu satu hal: dividen.
ARNA menetapkan dividen tunai Rp45 per saham untuk tahun buku 2025, total Rp330,36 miliar. Angka ini naik tipis dibanding dividen tahun sebelumnya sebesar Rp43 per saham. Kecil selisihnya, tapi arahnya tetap ke atas, dan itu yang dihitung pasar.
Untuk yang ingin kebagian, cum date di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 16 April 2026, dengan ex date keesokan harinya, 17 April. Di pasar tunai, cum date ditetapkan 20 April 2026, ex date 21 April 2026. Recording date berada di tanggal yang sama, 20 April. Pembayaran dijadwalkan berlangsung pada 28 April 2026.
Pertanyaannya sekarang: apakah tekanan harga gas masih akan menghantui margin di 2026, ataukah investasi infrastruktur produksi yang sudah ditelan tahun lalu mulai menghasilkan efisiensi nyata? Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal awal, jawabannya bisa jadi sudah mulai terlihat di laporan kuartal pertama tahun ini.