RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  ANTM Cetak Laba Rp3,4 Triliun di Q1, Deretan Anali...

Finansial

ANTM Cetak Laba Rp3,4 Triliun di Q1, Deretan Analis Serempak Naikkan Target Harga

Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk melesat hampir 62% di kuartal pertama 2026, memicu reviisi besar-besaran proyeksi analis dan kenaikan target harga dari berbagai sekuritas.

Target Harga Saham ANTM Naik Jadi Rp4.300, Laba Kuartal I 2026 Naik 60%

Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada kuartal I 2026 tercatat Rp3,41 triliun, melesat sekitar 62% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka yang, jujur saja, melampaui ekspektasi sebagian besar analis yang meliput emiten tambang pelat merah ini.

Pendapatan ANTM di periode yang sama mencapai Rp29,32 triliun, tumbuh 12% secara tahunan. Dua mesin utamanya: emas dan bijih nikel. Harga jual rata-rata emas menyentuh US$5.180 per troy ounce, sementara bijih nikel dihargai US$66,8 per wet metric ton (wmt). Keduanya berkontribusi jauh lebih besar dari yang semula diperhitungkan.

Ciptadana Sekuritas langsung bereaksi. Dalam riset tertanggal 17 Juni 2026, analisnya mengerek target harga ANTM dari Rp3.300 menjadi Rp4.300 dan mempertahankan rekomendasi beli. Proyeksi laba bersih untuk 2026 hingga 2028 direvisi naik masing-masing 51%, 59%, dan 61%. Revisi sebesar itu bukan sinyal kecil, bukan, maaf, bukan em dash, artinya kinerja Q1 bukan keberuntungan sesaat. Analis menilai kinerja Q1 terlalu kuat untuk sekadar dianggap anomali.

BRI Danareksa Sekuritas bahkan lebih agresif. Target harga yang dipasang: Rp4.800. Dalam riset yang terbit pada hari yang sama, analis Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi menempatkan ANTM sebagai salah satu dari enam saham pilihan mereka, saat IHSG masih menjalani reli yang mereka sebut taktis. Sektor logam masuk daftar overweight, didukung valuasi yang dinilai menarik dan sentimen regulasi yang mulai bersahabat.

Target paling ambisius? Dari UBS Sekuritas. Igor Putra memasang angka Rp6.050 per saham, jauh di atas harga penutupan ANTM pada 16 Juni 2026 di level Rp2.850. Kalau kalkulasi Igor tepat, potensi upside-nya lebih dari dua kali lipat. Igor mencatat bisnis feronikel ANTM membukukan margin tunai sekitar US$2.500 per ton nikel, dengan biaya tunai di bawah US$12.000 per ton nikel dan harga jual rata-rata US$14.500 per ton nikel. Harga jual saprolit ANTM sempat menyentuh US$80 per wmt pada April 2026, rekor tertinggi sepanjang sejarah, tanpa indikasi permintaan melemah.

Phintraco Sekuritas, lewat analisnya Vinna Nur Rachmawati, memproyeksikan pendapatan ANTM bisa mencapai Rp97,1 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,7% dari tahun sebelumnya. Laba bruto diperkirakan meningkat ke Rp15,3 triliun tahun ini dan terus mendaki hingga Rp22,2 triliun pada 2028, seiring kenaikan harga jual rata-rata di tiap segmen bisnis. Perlu dicatat bahwa target harga Phintraco sendiri berada di Rp5.000 per saham, bukan Rp6.050 seperti UBS.

Di sisi produksi, gambarannya tidak sepenuhnya mulus. Produksi bijih nikel tergerus 16,3% secara tahunan menjadi 3,9 juta wmt, feronikel berkurang 11,6% menjadi 4.000 ton nikel, dan bauksit amblas 3,8% menjadi 600.000 wmt. Penurunan ini agaknya lebih dipengaruhi pembatasan kuota RKAB ketimbang persoalan operasional. Tahun ini ANTM mengantongi persetujuan RKAB bijih nikel sebesar 18,1 juta wmt, naik 12,3% dari tahun sebelumnya. Manajemen meyakini pemerintah akan mempertahankan kebijakan pengetatan pasokan ini, dan itu justru menguntungkan karena harga nikel terjaga tetap tinggi.

Soal emas, ANTM menargetkan produksi 935 kilogram sepanjang 2026, naik 25,8% dari tahun lalu, dengan target penjualan di kisaran 43 hingga 45 ton. Analis Ciptadana mencatat bisnis emas mulai pulih setelah kendala pasokan bahan baku berangsur mereda, pemulihan yang terbaca jelas dari penjualan emas Q1 yang menembus Rp23,89 triliun.

Untuk jangka panjang, ANTM tengah menggarap sejumlah proyek strategis: pabrik logam mulia di Gresik, proyek RKEF, proyek HPAL di Halmahera Timur, hilirisasi nikel bersama Huayou, hingga Smelter Grade Alumina di Mempawah. Semua bagian dari ambisi perseroan membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir.

Risiko tidak bisa diabaikan. Igor dari UBS menyoroti ketidakpastian seputar rencana badan ekspor terpusat, kemungkinan windfall tax, kenaikan tarif royalti, dan pungutan ekspor yang sewaktu-waktu bisa menggerus profitabilitas industri. Proyek HPAL bersama CATL pun masih menggantung, belum ada keputusan investasi final karena keekonomian proyek masih dipertanyakan, terjepit antara tingginya harga limonit dan sulfur.

Satu hal lagi yang bikin sebagian investor kecewa: dividend payout ratio ANTM tahun ini dipatok 70%, turun dari 100% pada dua tahun sebelumnya. Koreksi harga pasca-RUPST, menurut analis Ciptadana, bukan cerminan pelemahan fundamental, melainkan reaksi pasar yang sudah terlanjur berharap lebih. Bagi yang masih pegang saham ini, itu beda cerita.

Harga saham di Rp2.850, target terendah analis di Rp4.300. Gap-nya cukup lebar untuk dieksplor, selama katalis positif dari emas dan nikel tidak tersandung gejolak kebijakan.