Setelah berbulan-bulan di fase beta, Google akhirnya menggulirkan Android 17 secara resmi. Pixel, seperti biasa, jadi yang pertama kebagian, sementara merek lain menyusul dalam beberapa bulan ke depan.
Pembaruan kali ini bukan sekadar poles antarmuka. Google membenamkan Gemini Omni, model AI terbarunya, langsung ke dalam sistem operasi. Pengguna bisa berinteraksi secara natural untuk tugas-tugas harian, termasuk mengedit video langsung dari aplikasi Gemini tanpa harus loncat ke aplikasi lain. Bukan chatbot yang sekadar ditempelkan di atas OS, Gemini Omni menyentuh hampir setiap lapisan sistem.
Yang bakal bikin kreator konten melirik dua kali adalah Lyria 3. Model AI generatif ini mampu menghasilkan musik hanya dari perintah teks atau gambar. Cukup mengesankan, kalau klaimnya terbukti. Google juga menyertakan AudioLM, teknologi penerjemahan suara real-time yang kini lebih matang di Pixel 10a, sehingga komunikasi lintas bahasa bisa berjalan tanpa bergantung pada aplikasi tambahan.
Sisi multitasking berubah cukup drastis. Hampir semua aplikasi kini bisa diubah jadi floating window, konsep yang selama ini identik dengan desktop. Paling terasa pada perangkat berlayar besar dan foldable. Ditambah Bubble Bar, elemen antarmuka baru berupa ikon gelembung di bagian bawah layar yang menampilkan aplikasi terakhir digunakan, berpindah antaraplikasi kini jauh lebih cepat.
Screen Reactions juga masuk daftar fitur yang ditunggu kreator. Fitur ini memungkinkan pengguna merekam layar sambil menampilkan wajah dari kamera depan secara bersamaan. Sebelumnya hanya bisa lewat TikTok atau Instagram. Google memindahkan kapabilitas itu langsung ke level OS. Sejalan dengan itu, Dynamic Camera Sessions membuat kamera lebih cepat terbuka, lebih stabil, dan memungkinkan aplikasi sosial media mengakses fitur premium Pixel seperti Night Sight secara native.
Di balik layar, Google memperbarui Android Runtime (ART). Perangkat diklaim terasa lebih responsif dan lebih efisien dalam mengelola sumber daya. Angka konkretnya belum ada, tapi ini bukan klaim yang bisa diabaikan begitu saja.
Keamanan dapat beberapa lapis tambahan. Deteksi ancaman real-time kini aktif di latar belakang, fitur "Mark as Lost" di Find Hub memudahkan pengguna menandai perangkat hilang, dan proteksi biometrik diperkuat untuk mencegah akses tidak sah. Satu lagi yang cukup praktis bagi keluarga: kontrol orang tua seperti batas waktu layar dan penyaringan konten kini bisa dikunci dengan PIN, tanpa perlu terhubung ke akun Google.
Kompatibilitas lintas ekosistem juga mendapat sentuhan. Quick Share Android ditingkatkan agar lebih kompatibel dengan AirDrop milik Apple, setidaknya pada Pixel 8a dan Pixel 9a. Bagi yang sering bolak-balik bertukar file antara Android dan iPhone di lingkungan kerja, ini mungkin salah satu pembaruan paling relevan secara praktis.
Bareng Android 17, Google menggulirkan Wear OS 7 untuk smartwatch Pixel. Efisiensi baterai diklaim naik hingga 10 persen, ada Live Updates tracking, kontrol smart home yang lebih ringkas, dan notifikasi langsung dari smartphone ke Pixel Watch. Wear OS 7 juga akan mendapat dukungan Gemini Intelligence, termasuk fitur pembuatan widget personal hanya dari deskripsi teks. Pixel Watch sendiri kini mampu mendeteksi kecelakaan kendaraan, pengguna terjatuh, atau kondisi darurat medis, lalu secara otomatis menghubungi layanan bantuan.
Google juga menyiapkan fondasi Android 17 dan Wear OS 7 untuk ekosistem perangkat masa depan: kacamata pintar berbasis AI, perangkat audio pintar, hingga mode gaming khusus ponsel lipat dengan tampilan layar terbagi dan kontrol virtual yang bisa dikustomisasi.
Android 17 bisa jadi pembaruan Android paling substansial dalam beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat produsen di luar Google bisa menggulirkannya ke basis pengguna yang jauh lebih besar?