Kursi chairman BP belum sempat hangat sudah kosong lagi.
Albert Manifold resmi dicopot pada 27 Mei 2026, kurang dari delapan bulan setelah dilantik pada Oktober 2025 untuk memimpin transformasi salah satu raksasa migas dunia. Keputusan dewan direksi bulat: Manifold kehilangan posisi chairman sekaligus keanggotaannya sebagai direktur, efektif seketika itu juga.
Pasar tidak butuh waktu lama untuk merespons. Saham BP di bursa London sempat jeblok hampir 10 persen sebelum memangkas sebagian kerugian, ditutup melemah sekitar 4 persen di level 5,29 euro per lembar.
Dua isu besar melatarbelakangi pemecatan ini. Pertama, laporan dari whistleblower dan sejumlah sumber internal soal perilaku agresif dan intimidatif Manifold, terhadap staf eksekutif hingga pegawai level bawah. Empat sumber yang mengetahui persoalan ini mengungkapkan bahwa sikap tersebut berlangsung berulang dan meluas, sampai dewan menilai posisinya tak lagi bisa dipertahankan. Kedua, Manifold diketahui mengadakan pertemuan dengan Elliott Management, hedge fund aktivis asal Amerika Serikat yang menguasai lebih dari 5 persen saham BP, tanpa memberitahu anggota dewan lainnya secara langsung.
Soal pertemuan dengan Elliott, gambarannya lebih rumit dari sekadar "rapat gelap". Sumber lain menyebut tim hubungan investor BP sebenarnya mengetahui pertemuan itu karena Manifold beberapa kali melapor. Tapi dewan tetap menganggap cara Manifold mengelolanya mencerminkan sikap sepihak yang kurang beritikad baik terhadap koleganya, bukan pelanggaran aturan tertulis, tapi jelas sinyal merah bagi tata kelola.
Elliott Management sendiri bukan pemain baru di drama BP ini. Selama setahun terakhir, hedge fund itu terus menekan manajemen untuk memangkas biaya, melepas proyek energi terbarukan, dan kembali fokus ke bisnis inti minyak dan gas. Agenda yang agaknya selaras dengan gaya kepemimpinan Manifold yang, menurut pengakuannya sendiri, memang gemar "menantang orang secara langsung".
"Albert telah membantu memberikan fokus dan percepatan transformasi BP. Namun, dewan terkejut dan kecewa setelah mengetahui adanya masalah pengawasan tata kelola dan perilaku yang dianggap tidak dapat diterima, sehingga kami mengambil tindakan tegas," ujar Direktur Independen Senior BP Amanda Blanc.
Manifold tidak terima begitu saja. Ia membantah seluruh tuduhan dan mengaku dipecat tanpa peringatan maupun penjelasan. Dalam pernyataan yang cukup panjang, ia mengakui mungkin terlalu keras mendorong perubahan, namun menolak keras narasi yang menurutnya dibangun di atas kebohongan. "Yang tidak saya terima adalah kebohongan tentang diri saya, maupun orang-orang yang bersembunyi di balik anonimitas saat mengomentari masa kerja saya di BP," tegasnya.
Dewan menunjuk Ian Tyler sebagai chairman sementara.
Pemecatan Manifold memperpanjang daftar kekacauan manajerial di puncak BP yang sudah berlangsung sejak 2023. Tahun itu, CEO Bernard Looney dipecat setelah terbukti berbohong kepada dewan soal hubungan pribadinya dengan rekan kerja. Penggantinya, Murray Auchincloss, hengkang mendadak pada Desember 2025 tanpa penjelasan publik yang memadai. Kini Manifold menyusul. Posisi CEO kemudian diisi Meg O'Neill, mantan bos Woodside Energy, yang menjadi CEO kelima BP sejak 2020.
Tiga pergantian paksa di level puncak dalam tiga tahun. Bukan main.
Lindsey Stewart dari Morningstar menyebutnya sebagai kondisi ruang rapat paling tidak stabil di antara perusahaan minyak besar dunia. "BP sekarang sudah memiliki CEO ketiga dan chairman ketiga dalam waktu kurang dari tiga tahun. Jelas bahwa memperbaiki tata kelola perusahaan dan strategi bisnis harus menjadi prioritas," katanya. Bagi investor jangka panjang, kalau data pergantian ini bisa dijadikan patokan, angka itu bukan sekadar statistik kepegawaian, ini cermin retak dari sebuah institusi yang belum selesai dengan dirinya sendiri.