SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Airlangga Rayu China Garap PLTS 100 GW, Deadline 2...

Bisnis

Airlangga Rayu China Garap PLTS 100 GW, Deadline 2029

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengundang investor China masuk ke proyek PLTS 100 GW milik Prabowo, dengan nilai perdagangan bilateral RI-China sudah tembus US$154,6 miliar di 2025.

Airlangga Ajak China Garap Proyek PLTS 100 GW di Indonesia - Listrik Indonesia

Sepanjang 2025, China sudah menggelontorkan hampir US$8,1 miliar investasi ke Indonesia, setara 13 persen dari total FDI yang masuk. Angka itu rupanya belum cukup bagi Jakarta. Di Shanghai, Jumat malam, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mempersilakan Negeri Tirai Bambu untuk masuk lebih jauh, kali ini ke salah satu proyek ambisius Presiden Prabowo Subianto: pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt.

Pertemuan bilateral Airlangga dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai jadi forum resmi pertama di mana ajakan investasi PLTS skala besar itu disampaikan langsung. Target Kementerian ESDM jelas: seluruh kapasitas 100 GW harus beroperasi sebelum 2029 tutup.

Airlangga menyebut kerja sama di PLTS Terapung Cirata sebagai bukti konkret bahwa kolaborasi energi kedua negara bukan sekadar wacana. Proyek yang kini masuk daftar pembangkit surya terapung terbesar di Asia Tenggara itu, ungkapnya, memperlihatkan skala potensi yang bisa dikejar bersama. "Indonesia mengapresiasi investasi China dalam pengembangan PLTS Terapung Cirata. Proyek ini menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia dan China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, serta pencapaian target penurunan emisi," ujar Airlangga dalam keterangan resminya.

Bukan hanya soal panel dipasang dan listrik mengalir. Pemerintah ingin rantai pasoknya tumbuh di dalam negeri juga, dari produksi komponen hingga manufaktur panel surya. Airlangga terang-terangan mendorong investasi baru yang bisa memperkuat ekosistem industri tenaga surya nasional. Langkah yang agaknya diarahkan agar Indonesia tidak sekadar jadi pasar captive bagi produk China, melainkan ikut kebagian nilai tambahnya.

Konteks ekonominya memang kondusif untuk pitching semacam ini. China sudah bertahun-tahun menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, dan angka 2025 memperkuat posisi itu: nilai perdagangan bilateral menembus US$154,6 miliar, tumbuh rata-rata 7,24 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Investasi China masuk ke sektor manufaktur, perdagangan, energi, properti, transportasi, hingga pergudangan. Hampir tidak ada sektor yang dilewati.

Agenda pertemuan itu tidak berhenti di energi surya. Kedua pihak membahas penguatan kerja sama lewat skema Two Countries Twin Parks, perluasan akses pasar untuk menciptakan neraca perdagangan yang lebih berimbang, serta dukungan Beijing terhadap pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Sekretariat RCEP. Airlangga juga menyampaikan dukungan Indonesia atas kepemimpinan China sebagai Ketua APEC tahun ini, menjelang KTT APEC 2026 yang akan digelar di negeri itu.

Yang patut dicermati, Airlangga bicara soal identifikasi proyek prioritas yang bisa diumumkan saat pertemuan para pemimpin kedua negara. Artinya ada kemungkinan sebagian dari komitmen investasi PLTS ini akan dikristalisasi di forum yang lebih tinggi, bukan sekadar bilateral tingkat menteri. Bisa jadi ini sinyal bahwa negosiasi sudah lebih jauh dari sekadar penjajakan.

100 GW. Angka yang tidak main-main. Dan pertanyaan yang wajar ditanyakan investor: seberapa konkret pipeline-nya, dan seperti apa skema insentif yang ditawarkan pemerintah agar angka besar ini tidak berakhir hanya di atas kertas?