Satu data center AI bisa menyedot listrik setara 100.000 rumah tangga. Bukan proyeksi spekulatif, melainkan estimasi Badan Energi Internasional (IEA) yang kini mulai membuat banyak operator jaringan listrik di dunia kehilangan tidur.
Pada 2025, konsumsi listrik seluruh data center dunia tercatat 485 terawatt-jam (TWh), setara sekitar 1,5 persen dari total kebutuhan listrik global. Pada 2030, angka itu diproyeksikan nyaris dua kali lipat menjadi 950 TWh, atau sekitar 3 persen dari permintaan listrik dunia. Khusus untuk data center yang fokus pada pelatihan model AI, laju pertumbuhannya bahkan diperkirakan tiga kali lipat dalam rentang yang sama.
Bahwa ini bukan sekadar urusan tagihan listrik korporasi, insiden di Northern Virginia, AS, 10 Juli 2024 sudah membuktikannya. Kawasan berjuluk "Data Center Alley" itu dihuni lebih dari 200 data center milik Microsoft, Google, dan Amazon. Ketika penangkal petir di jalur transmisi rusak, sekitar 60 data center kompak lepas dari jaringan secara bersamaan, menarik pergi 1.500 megawatt (MW) beban listrik dalam hitungan detik. Operator jaringan harus turun tangan darurat agar insiden itu tidak merembet jadi pemadaman kota.
"Ketika data center makin besar dan mengonsumsi lebih banyak energi, jaringan listrik tidak dirancang untuk menahan hilangnya data center berkapasitas 1.500 megawatt," kata John Moura, Director of Reliability Assessment and System Analysis NERC, lembaga pengawas keandalan listrik Amerika Utara. Paradoksnya, masalah bukan datang saat data center rakus listrik, tapi justru ketika mereka serentak berhenti memakai listrik karena pasokan berlebih dan tegangan melonjak.
Problema ini makin parah saat data center menjalankan training model AI. Pemakaian listrik bisa anjlok dari lebih dari 400 MW ke sekitar 40 MW lalu melonjak lagi, semua dalam hitungan menit, tanpa ada pemberitahuan ke operator jaringan. Risiko yang digolongkan "high likelihood, high impact" ini bisa memicu, dalam skenario terburuk, pemadaman berantai yang merusak turbin pembangkit.
Indonesia belum pernah mengalami insiden serupa. Agaknya bukan karena kapasitasnya sudah aman, melainkan karena skalanya masih kecil. Dan sedang tumbuh cepat. PLN memproyeksikan kapasitas komputasi data center nasional naik dari sekitar 580 MW pada 2026 menjadi 3,5 GW pada 2030. Rencana pembangunan hingga 2034 bahkan bisa mencapai 25 GW. Per Oktober 2026, ada 204 data center di Indonesia. Sebanyak 107 di antaranya bertumpu di Jakarta, dengan kapasitas terpasang sekitar 322 MW atau 55 persen dari total nasional. Rencana kapasitas baru di Jakarta saja mencapai 1,7 GW, Batam 1,4 GW.
Pertanyaannya sederhana: apakah jaringan listrik nasional dirancang untuk skenario itu?
Di level kebijakan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ekosistem yang menghubungkan data center, AI, semikonduktor, dan talenta digital menjadi penentu daya saing ekonomi. Pemerintah telah menggandeng ARM Holdings dari Inggris untuk pengembangan desain semikonduktor, bergabung sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), dan mendorong integrasi lewat Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di kawasan ASEAN.
"Anak-anak muda ini menjadi digital literate dibandingkan dengan eyang dan buyut-buyutnya, jadi ini adalah the next economy yang harus kita kuasai. Kita mendorong artificial intelligence, semi-conductor, dan talenta digital karena kebutuhan kerja akan berbeda dengan mereka yang bekerja di sektor industri padat karya dan di sektor industri padat modal," ujar Airlangga dalam Kuliah Umum di Universitas Negeri Semarang, Jumat (9/10). Tiga prioritas yang disebutnya, setidaknya itu klaimnya, tidak bisa ditunda karena struktur lapangan kerja sedang bergeser dari padat karya ke padat teknologi.
Tantangan ini bukan milik Indonesia seorang. Di Abu Dhabi, diskusi panel Ai Everything 2026 pekan lalu mempertemukan para pelaku industri dengan satu benang merah yang sama. "Karena itu, tidak adil jika kita menilai AI hanya berdasarkan jejak lingkungan yang ditimbulkannya. Kita juga harus melihat kontribusi positif yang dapat diberikan," tegas Amal Abdulrahim, Assistant Undersecretary dan Chief AI Officer Kementerian Perubahan Iklim UEA, dalam forum itu.
Buktinya ada. AIQ, perusahaan AI joint venture ADNOC dan Presight, mengembangkan RoboWell, teknologi untuk mengoptimalkan operasi gas lift di sumur minyak. "Kami dapat mengoptimalkan jumlah gas yang disuntikkan sehingga kebutuhan energi untuk mencapai tingkat produksi optimal bisa dikurangi," kata CEO AIQ Dennis Jol dalam forum yang sama. Enam tahun beroperasi, mereka menangani sekitar 200 kasus penggunaan AI di sektor energi. Kini AIQ berekspansi ke India.
Ibarat pedang bermata dua: AI boros energi, tapi AI juga bisa menjadi solusi efisiensi energi. Hasilnya bergantung pada siapa yang memegangnya, dan seberapa serius infrastrukturnya dipersiapkan.
Untuk Indonesia, momentum pertumbuhan ekonomi 5,45 persen di semester pertama 2026 dan inflasi September yang terjaga di 3,28 persen memberi ruang gerak. Tapi membangun ekosistem data center yang tidak mengguncang jaringan listrik nasional butuh lebih dari ambisi. Butuh investasi infrastruktur energi, regulasi koordinasi antara operator data center dan PLN, dan kesiapan SDM yang jauh melampaui program beasiswa empat tahun. Kalau data pertumbuhan kapasitas ini bisa dipercaya, waktu yang tersedia tidak banyak.