SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  AI Bikin PHK, tapi Sam Altman Bilang Kiamat Kerja...

Bisnis

AI Bikin PHK, tapi Sam Altman Bilang Kiamat Kerja Tak Akan Terjadi

Di saat Silicon Valley kehilangan lebih dari 114.000 pekerjaan sepanjang 2026, CEO OpenAI Sam Altman justru mengakui prediksinya soal dampak AI terhadap lapangan kerja kerah putih meleset jauh dari kenyataan.

CEO Open AI: AI Tidak Akan Picu Kiamat Pekerjaan Global

Sam Altman mengakui salah. Orang yang memimpin perusahaan paling berpengaruh di ekosistem AI global itu berdiri di hadapan konferensi Commonwealth Bank of Australia di Sydney, Selasa (26/5), dan bilang bahwa dampak AI terhadap pekerjaan kerah putih tingkat pemula "jauh lebih kecil dari yang ia bayangkan" sejak ChatGPT diluncurkan pada 2022.

Pernyataan itu menarik bukan karena isinya saja, tapi karena momentumnya. Tepat pekan yang sama, Meta memangkas 8.000 karyawan. Intuit mengumumkan 3.000 PHK. ClickUp memotong 22% stafnya, dengan CEO-nya menyebut visi menciptakan "organisasi 100x" berbasis AI. Data dari Layoffs.fyi mencatat lebih dari 114.000 PHK dari 150 perusahaan teknologi sepanjang 2026, sebagian besar berbasis di Silicon Valley.

Jadi mana yang benar?

Agaknya jawabannya tidak sesederhana salah satu pihak. Altman sendiri menyebut prediksi teknisnya soal kemampuan AI terbukti akurat, tapi implikasi sosial dan ekonominya jauh meleset dari ekspektasi awal. "Saya senang ternyata saya salah," katanya kepada CEO CBA Matt Comyn, seraya menambahkan bahwa topik ini menurutnya masih layak dibicarakan.

Kontradiksi antara narasi "AI tidak menggantikan manusia" dan kenyataan gelombang PHK yang tak berhenti ini punya penjelasan yang lebih berlapis. Babak Hodjat, Chief AI Officer Cognizant, menyebut AI kerap dijadikan "kambing hitam" dalam restrukturisasi perusahaan. "Terkadang AI menjadi kambing hitam dari sisi finansial. Ini bisa terjadi ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi," kata Hodjat. Temuan dari sebuah survei manajer perekrutan menguatkan hal itu: sekitar 59 persen responden mengakui mereka sengaja menekankan narasi AI dalam pengumuman PHK karena "terlihat lebih baik di mata pemangku kepentingan." Fenomena ini sudah punya nama tersendiri, AI Washing, dan kian marak.

Faktor lainnya adalah koreksi pasca-pandemi yang memang sudah lama menunggu. Selama 2020-2022, perusahaan teknologi merekrut agresif seiring lonjakan permintaan digital. Ketika pertumbuhan melambat dan suku bunga naik, koreksi besar-besaran menjadi tak terelakkan. AI hanya kebetulan hadir di momen yang sama, sehingga mudah dijadikan narasi utama.

Bukan berarti peran AI nihil. CEO Google Sundar Pichai mengklaim adopsi AI telah mendongkrak produktivitas engineer hingga 10 persen. CFO Meta Susan Li bahkan mengakui perusahaan belum tahu "ukuran tim ideal" di era AI karena efisiensi terus bergerak. Artinya, perusahaan kini menuntut output yang sama, atau lebih besar, dari tim yang lebih ramping. Ini bukan penggantian langsung, tapi bagi karyawan yang terdampak, rasanya tidak terlalu berbeda.

Meta sendiri adalah contoh paling gamblang dari tegangan ini. Zuckerberg memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja, sementara belanja modal AI perusahaan melonjak ke kisaran 125-145 miliar dolar AS. Sumber daya bukan hilang, hanya berpindah tangan dari manusia ke infrastruktur mesin.

Pemerintah California rupanya tidak mau sekadar menonton. Gubernur Gavin Newsom pekan ini menandatangani executive order pertama di Amerika Serikat yang secara spesifik merespons disrupsi tenaga kerja akibat AI. Kebijakan ini mengumpulkan universitas, ekonom, spesialis tenaga kerja, hingga eksekutif industri untuk merancang perlindungan baru, mulai dari aturan pesangon, asuransi kerja, program modal dasar universal, sampai portal pelatihan berbasis AI. "California tidak pernah diam saja saat masa depan terjadi begitu saja pada kita," tegas Newsom. Masuk akal California bergerak duluan. Negara bagian itu adalah rumah bagi 33 dari 50 perusahaan AI swasta teratas dunia.

Alan Cohen, analis dari RationalFX, menyebutnya "reorganisasi fundamental" bukan eliminasi. Ekonom Apollo Global Management Torsten Slok bahkan mengangkat konsep Jevons Paradox, efisiensi yang meningkat justru mendorong permintaan baru dan membuka lapangan kerja yang sebelumnya tidak ada. Pandangan yang menarik, kendati masih perlu dibuktikan dalam skala nyata. Patut dicatat, sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 memang dikaitkan dengan AI, tapi analis menilai perubahan ini lebih berupa reorganisasi ketimbang eliminasi pekerjaan.

Altman sendiri mengakui ada dimensi yang tak bisa digantikan mesin: interaksi manusia yang tulus. Ia bercerita sudah mencoba membiarkan AI membalas pesan Slack-nya, tapi akhirnya kembali menjawab sendiri. "Kita benar-benar peduli dengan interaksi kita dengan orang lain," katanya, dan kesadaran itu yang membuatnya yakin "kiamat lapangan kerja" tidak akan terjadi. "Gambaran lapangan kerja kemungkinan akan sangat berbeda dari yang kita duga," tambahnya, "tapi bukan kiamat."

Pertanyaannya, berapa lama narasi ini bertahan sebelum data memaksa semua pihak mengulang pengakuan seperti yang Altman lakukan hari Selasa itu?

Yang lebih relevan untuk dicermati bukan jumlah PHK hari ini, tapi siapa yang akan direkrut perusahaan-perusahaan ini enam bulan ke depan. Kalau data itu bisa dipercaya, jawabannya akan lebih jujur dari pernyataan konferensi manapun.