Dua entitas Grup Alamtri milik Garibaldi "Boy" Thohir kompak memasuki momen penting di pekan terakhir April. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sama-sama menetapkan 27 April 2026 sebagai cum date dividen, sementara laporan keuangan kuartal pertama keduanya mengalirkan angka yang jauh dari mengecewakan.
Mulai dari ADMR. Pendapatan usaha entitas pertambangan mineral ini melesat 33,79% secara tahunan menjadi US$ 267,49 juta di kuartal I-2026, naik dari US$ 199,94 juta di periode yang sama tahun lalu. Mesin penggeraknya jelas: segmen pertambangan menyumbang US$ 266,46 juta, tumbuh 33,97% YoY dari basis US$ 198,90 juta. Segmen jasa lainnya, meski kecil secara nominal, melonjak tiga kali lipat menjadi US$ 4,56 juta dari US$ 1,52 juta sebelumnya. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Di sisi dividen, ADMR mengalokasikan US$ 120 juta, atau sekitar 44,25% dari laba bersih 2025, untuk dibagikan ke pemegang saham, hasil keputusan RUPS Tahunan pada 17 April lalu. Yield-nya diklaim mencapai sekitar 6%, tiga kali lipat rata-rata bunga deposito perbankan saat ini. Bagi investor yang mengejar passive income, angka ini cukup untuk bikin berhitung ulang. "Sesuai dengan hasil RUPS Tahunan, total nilai dividen yang akan dibagikan sebesar US$ 120 juta," tulis Sekretaris Perusahaan Mahardika Putranto dalam keterbukaan informasi.
Beralih ke induknya, ADRO. Laba bersih kuartal I-2026 tercatat US$ 128 juta, turun tipis secara kuartalan tapi melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun lalu. Yang menarik bukan sekadar angka labanya, melainkan dari mana pertumbuhan itu datang.
Harga jual rata-rata batu bara metalurgi terkerek ke US$ 183 per ton, didorong kondisi pasar global yang masih ketat. Volume penjualan mencapai 1,46 juta ton, tumbuh dua digit. Dua variabel ini menciptakan efek operating leverage yang terasa nyata di level laba usaha: melesat 84% YoY menjadi US$ 146 juta. Masif.
Tapi kuartal ini punya cerita lain. Lonjakan paling mencolok justru datang dari lini joint venture, yang pendapatannya meledak hampir sepuluh kali lipat secara tahunan. Hampir seluruhnya ditopang kontribusi PT Bhimasena Power Indonesia (BPI). Dengan availability factor pembangkit yang tinggi, BPI menyumbang sekitar US$ 23 juta ke ADRO hanya dalam satu kuartal. Kalau tren ini berlanjut, BPI bisa jadi recurring income yang jauh lebih diperhitungkan dari sebelumnya.
Proyek aluminium lewat PT Kalimantan Aluminium Industry? Masih commissioning, belum berkontribusi sepeser pun ke pendapatan. Agaknya investor perlu sedikit sabar di sini. Tren harga aluminium global yang menguat setidaknya memberi sinyal bahwa timing proyek ini tidak terlalu buruk, kalau data ini bisa dipercaya.
Tidak semua lini bergerak mulus. Segmen mining services mulai menunjukkan tekanan, laba bersihnya tergerus meski efisiensi operasional masih terjaga. PT Saptaindra Sejati selaku kontraktor tambang juga dihajar penurunan volume coal transport, meski aktivitas overburden justru meningkat tajam. Bak pedang bermata dua.
Dari sudut valuasi, ADRO diperdagangkan di rasio PE sekitar 10 kali (TTM), tergolong murah untuk emiten big cap dengan ROE yang solid. KB Valbury Sekuritas merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 2.560, entry price di kisaran Rp 2.450-2.520.
Satu hal yang patut dicermati: 2026 juga akan menjadi tahun pertama ADRO menikmati aliran dividen penuh dari Adaro Andalan Indonesia. Angka pastinya belum terungkap. Yang jelas, tambahan recurring income ini sebelumnya belum tercermin di laporan awal tahun, dan bisa jadi kejutan positif di kuartal-kuartal berikutnya, entah kebetulan atau tidak.
Grup Alamtri kini berdiri di titik yang menarik: batu bara masih kuat menopang fondasi, aluminium menjanjikan narasi masa depan, dan BPI mulai memberi kontribusi nyata. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat pasar akan me-reprice semua ini?