SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  59 Persen Bensin RI Masih Impor, Singapura Pemasok...

Bisnis

59 Persen Bensin RI Masih Impor, Singapura Pemasok Terbesar

Kementerian ESDM mengakui lebih dari separuh kebutuhan bensin nasional dipasok dari luar negeri, dengan Singapura menguasai 64 persen porsi impor per April 2026.

Lebih dari separuh bensin yang kamu isi di SPBU setiap hari ternyata datang dari luar negeri. Fakta ini disampaikan langsung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (8/4).

Sekretaris Ditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menyebut porsi impor bensin pada 2026 masih mencapai 59 persen dari total kebutuhan nasional. Turun tipis dari 60,18 persen di 2025, tapi jangan dulu senang. Strukturnya belum banyak berubah.

Konsumsi harian bensin nasional sendiri terbilang jumbo. Sepanjang 2025, angkanya mencapai 100.986 kiloliter per hari. Hingga Februari 2026, volume itu menyusut tipis ke 99.661 kiloliter per hari. Beda tak seberapa. Kalau dirinci, bensin bersubsidi alias JBKP (Pertalite) turun dari 76.932 KL per hari menjadi 74.407 KL per hari, sedangkan bensin nonsubsidi seperti Pertamax justru merangkak naik dari 24.055 KL menjadi 25.254 KL per hari pada periode yang sama.

Pergeseran ini agaknya mencerminkan dua hal sekaligus: efek pembatasan subsidi mulai terasa, dan daya beli segmen menengah masih cukup solid untuk naik kelas ke Pertamax. Pola klasik transisi konsumsi BBM.

Peta pemasok nyaris tak bergeser dari sisi asal impor. Singapura tetap jadi sumber utama. Porsinya malah membesar dari 63 persen di 2025 menjadi 64,23 persen per 1 April 2026. Malaysia masih di urutan kedua, meski pangsa pasarnya terpangkas cukup dalam, dari 33,14 persen menjadi 27,18 persen.

Yang mulai kelihatan adalah pemain baru. Oman mencatat lonjakan dari hanya 1,05 persen di 2025 menjadi 5,55 persen di 2026. Uni Emirat Arab pun ikut mengerek porsinya dari 0,72 persen ke 3,03 persen. Diversifikasi sumber impor, bisa jadi, adalah respons terhadap dinamika geopolitik dan harga di pasar regional. Tapi skalanya? Masih kecil.

Untuk solar, kondisinya justru berbalik. Kebutuhan harian minyak solar malah meningkat tipis dari 110.932 KL per hari di 2025 menjadi 111.356 KL per hari hingga Februari 2026. Solar memang jenis BBM dengan volume konsumsi terbesar secara nasional, melampaui bensin.

"Produk yang paling dibutuhkan masyarakat luas adalah bensin dan minyak solar," kata Rizwi dalam paparannya.

Pertanyaannya bukan sekadar soal angka impor yang besar. Ketergantungan pada satu pemasok dominan seperti Singapura membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga maupun gangguan pasokan. Gangguan itu bisa datang kapan saja. Diversifikasi ke Timur Tengah langkahnya benar, tapi porsi gabungan Oman dan UEA baru sekitar 8,5 persen. Terlalu kecil untuk disebut solusi, setidaknya untuk saat ini.