JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  555 Drone, Kilang Terbakar: Serangan Ukraina ke Mo...

Internasional

555 Drone, Kilang Terbakar: Serangan Ukraina ke Moskwa Capai Skala Tertinggi dalam Dua Tahun

Ukraina meluncurkan serangan drone terbesar ke Moskwa sejak invasi 2022, menghantam kilang minyak utama dan menghentikan operasi empat bandara. Rusia membalas dengan rudal balistik ke Kyiv, sementara meja perundingan di Paris masih beku.

Perang Memanas, Ukraina-Rusia Saling Serang dalam Skala Besar

Asap hitam membubung dari Distrik Kapotnya. Atap tangki bahan bakar di Kilang Minyak Moskwa terlempar ke udara. Bukan adegan film perang, tapi footage yang diverifikasi lokasinya oleh CNN dari apa yang terjadi di jantung ibu kota Rusia pada Kamis (18/6/2026) dini hari.

Serangan drone paling masif ke Moskwa dalam dua tahun terakhir. Berlangsung sejak Rabu malam, operasi ini membuat Kementerian Pertahanan Rusia mencatat 555 drone dicegat di berbagai wilayah, termasuk di atas Laut Azov. Tepatnya 194 unit ditembak jatuh saat mendekati Moskwa saja. Jujur saja, angka itu jauh melampaui serangan-serangan berat sebelumnya yang biasanya hanya menyasar dua digit drone per gelombang.

Wali Kota Moskwa Sergei Sobyanin mengonfirmasi beberapa drone berhasil menembus pertahanan dan mencapai Kilang Minyak Moskwa, atau MNPZ. Lalu lintas di sekitar kilang ditutup. Sobyanin tidak menyebut skala kerusakan, tapi sejumlah media Rusia melaporkan fasilitas itu terbakar. Ini serangan kedua ke kilang yang sama dalam satu pekan, setelah serangan Selasa (16/6) yang memicu kepulan asap tebal di Kapotnya.

Dampaknya menjalar ke mana-mana. Empat bandara Moskwa, termasuk Sheremetyevo, menghentikan seluruh operasi penerbangan. Penumpang dievakuasi. Gubernur Wilayah Moskwa Andrey Vorobyov melaporkan puing drone jatuh di gedung apartemen di Zhukovsky. Kebakaran terpantau di dekat pusat perdagangan Sadovod, mal terbesar di Rusia.

Staf Umum Ukraina juga mencatat sebuah depot minyak di wilayah Rostov kena hantaman dalam operasi yang sama. Polanya sudah jelas: Ukraina membidik pembuluh darah ekonomi perang Rusia secara sistematis, bukan sekadar membuat kebisingan di langit Moskwa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang saat itu ada di Brussels untuk menemui para pemimpin NATO, menegaskan serangan terhadap infrastruktur energi adalah strategi kunci memaksa Moskwa ke meja perundingan. Serangan Kamis itu, tegasnya, "respons yang sepenuhnya dapat dibenarkan" atas gempuran Rusia terhadap kota-kota Ukraina. "Dalam beberapa hari terakhir, semua mitra kami telah mencatat presisi dan efektivitas serangan jarak menengah serta sanksi jarak jauh kami," tambahnya.

Rusia tidak diam. Angkatan Udara Ukraina melaporkan tujuh rudal dan 239 drone ditembakkan sebagai balasan, menghantam rumah warga, fasilitas energi, hanggar, dan depot minyak di wilayah Kyiv serta Poltava. Kepala Administrasi Militer Kyiv Tymur Tkachenko memperingatkan warganya lewat Telegram agar tetap berlindung karena rudal balistik sedang menyasar ibu kota. Serangan kedua Rusia ke Kyiv dalam satu pekan, setelah awal pekan lalu yang menewaskan 10 orang dan meluluhlantakkan biara berusia seribu tahun. Di Sumy, kota di timur laut Ukraina, satu orang tewas akibat serangan drone terpisah.

Ironis betul timingnya. Baku hantam terkeras pekan ini meletus persis saat Zelensky baru keluar dari pertemuan dengan Donald Trump dan Emmanuel Macron di sela KTT G7 di Paris. Macron menyebut beberapa hari terakhir sebagai "penyatuan kembali G7 untuk Ukraina" dan berjanji mendorong kapasitas serangan balik Kyiv. Keesokan harinya, Swedia mengonfirmasi kontribusi 108 juta dolar AS, sekitar Rp1,78 triliun, untuk paket senjata baru bagi Ukraina bersama Norwegia dan Kanada.

Adapun Putin berada di Kazan, 700 kilometer dari Moskwa, menjamu para pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN-Rusia saat drone-drone itu mengudara. Indonesia diwakili Menlu Sugiono karena Presiden Prabowo tidak hadir. Kremlin agaknya berupaya keras menampilkan citra normalitas di panggung diplomatik, padahal di dalam negeri ekonomi kian terjepit: inflasi tinggi, kekurangan tenaga kerja, dan kini, kekurangan bahan bakar. Sumber Reuters mengungkap Rusia bahkan berencana mengimpor bahan bakar lewat jalur laut bulan ini untuk menutup defisit akibat rentetan serangan ke kilang-kilangnya.

Rusia produsen minyak terbesar ketiga di dunia. Kenyataan bahwa negara itu kini harus mengimpor bahan bakar adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan, baik di peta perang maupun di pasar energi global. Pertanyaannya, berapa lama Moskwa sanggup menanggung tekanan ini?