KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  4 Mata Uang Peserta Piala Dunia 2026 yang Mengalah...

Finansial

4 Mata Uang Peserta Piala Dunia 2026 yang Mengalahkan Dolar AS

Di tengah dominasi greenback dalam transaksi global, franc Swiss, euro, pound sterling, dan dinar Yordania tercatat memiliki nilai nominal lebih tinggi dari dolar AS per 16 Juni 2026.

4 Mata Uang Peserta Piala Dunia Ini Lebih Perkasa dari Dolar AS

Piala Dunia 2026 menyuguhkan persaingan sengit di lapangan hijau, tapi ada satu duel yang luput dari sorotan kamera: pertarungan nilai tukar mata uang.

Dari 48 negara peserta, mayoritas membawa mata uang yang secara nominal berada di bawah dolar AS. Wajar, mengingat greenback masih menjadi raja dalam transaksi lintas batas. Tapi ada empat pengecualian yang patut dicatat: franc Swiss, euro, pound sterling, dan dinar Yordania. Keempat mata uang ini justru bertengger di atas dolar AS per penutupan perdagangan Selasa (16/6/2026).

Satu catatan sebelum masuk ke angkanya: nilai tukar nominal yang lebih tinggi tidak otomatis berarti ekonomi suatu negara lebih besar dari Amerika Serikat. Perbandingan ini murni soal berapa nilai satu unit mata uang terhadap satu dolar. Konteksnya berbeda, tapi tetap menarik.

Franc Swiss tercatat di CHF 0,792 per dolar AS. Kekuatannya bukan kebetulan. Swiss punya rekam jejak stabilitas politik yang panjang, inflasi yang historis rendah, dan sistem keuangan yang nyaris tidak pernah membuat investor panik. Ekspor Swiss pun bukan barang sembarangan: dari farmasi, mesin presisi, sampai jam tangan mewah yang permintaannya tetap solid meski harga dalam franc tergolong mahal bagi pembeli asing. Kombinasi ini agaknya susah ditandingi dalam jangka pendek.

Euro berada di EUR 0,861 per dolar AS. Mata uang ini paling banyak dipakai peserta Piala Dunia 2026, delapan negara sekaligus: Jerman, Belanda, Belgia, Spanyol, Prancis, Austria, Portugal, dan Kroasia. Kekuatannya ditopang oleh bobot ekonomi kawasan Uni Eropa secara kolektif, plus posisinya sebagai mata uang cadangan terbesar kedua di dunia setelah dolar.

Pound sterling menyusul di GBP 0,744 per dolar AS, mewakili Inggris dan Skotlandia yang keduanya tampil di turnamen ini. Secara historis, pound pernah menjadi mata uang paling dominan di era standar emas, dan warisan itu masih mempengaruhi persepsi investor sampai sekarang. London tetap berstatus pusat keuangan kelas dunia, yang menjaga permintaan terhadap pound tetap tinggi, terlepas dari gejolak politik yang sempat mengguncang Inggris dalam beberapa tahun terakhir.

Yang paling mengejutkan justru dinar Yordania. Dengan kurs JOD 0,708 per dolar AS, dinar Yordania adalah mata uang paling "mahal" secara nominal di antara seluruh peserta. Bukan main. Bedanya dengan tiga mata uang lain: kekuatan dinar bukan produk pasar bebas, melainkan hasil kebijakan nilai tukar yang dipatok ke dolar AS. Bank sentral Yordania secara aktif menjaga kurs ini, dan untuk itu dibutuhkan cadangan devisa yang memadai sebagai penopang kepercayaan pasar. Stabilitas yang direkayasa, kalau mau jujur, tapi terbukti efektif.

Apakah semua ini menggeser posisi dolar AS? Belum. Dolar tetap mendominasi cadangan devisa bank sentral global dan menjadi alat pembayaran utama dalam perdagangan internasional. Pertanyaannya, berapa lama empat mata uang ini bisa mempertahankan keunggulan nominalnya? Entah kebetulan atau tidak, keempatnya berasal dari negara yang juga berlaga di Piala Dunia 2026. Di lapangan mungkin belum pasti siapa juaranya, tapi di pasar forex, franc Swiss, euro, pound, dan dinar Yordania sudah lebih dulu mencetak gol.