Tahun ini, 43 universitas dan sekolah kejuruan di Beijing serentak meluncurkan 100 program studi baru. Bukan angka biasa. Hampir seluruhnya berputar di satu sumbu: kecerdasan buatan.
Beijing Evening News melaporkan AI kini menjadi salah satu bidang studi paling diminati di perguruan tinggi ibu kota Tiongkok. Dari 78 program baru di sektor perguruan tinggi dan pendidikan kejuruan, kata-kata seperti "cerdas" dan "robotika" berulang kali muncul sebagai benang merah. Program seperti Teknik Energi Terpadu Cerdas, Teknologi Manufaktur Cerdas, hingga Teknologi Robotika tumbuh bak jamur di musim hujan, ah, bukan, lebih tepatnya: meledak dalam satu musim tanam yang sama. Agresif, terencana, dan jelas punya kalkulasi.
Universitas-universitas besar bergerak cepat. Universitas Tianjin mengumumkan reformasi komprehensif untuk mengintegrasikan AI ke seluruh aktivitas pengajaran, sekaligus menerbitkan pedoman resmi penggunaan alat AI bagi dosen dan mahasiswa. Universitas Tongji menyesuaikan skema penerimaan mahasiswanya, menambah dua jurusan baru: Robotika Masa Depan dan Rekayasa Internet. Institut Teknologi Harbin mendapat lampu hijau dari Kementerian Pendidikan untuk membuka program-program pionir seperti Kecerdasan Ekspresif, Ilmu Otak, dan Kecerdasan Linguistik, yang langsung dikukuhkan sebagai program perintis nasional.
Apa yang mendorong gelombang ini? Chen Jing, Wakil Presiden Institut Studi Strategis dan Teknologi Tiongkok, menyebut perluasan program AI sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Menurutnya, AI sedang membentuk ulang model pembangunan ekonomi dan sosial dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus mengubah cara pendidikan diorganisasikan dari akarnya.
Gerakannya tidak berhenti di kampus. Pemerintah Tiongkok secara aktif mendorong integrasi AI ke jenjang yang jauh lebih awal: sekolah dasar dan menengah. Kementerian Pendidikan berargumen bahwa memperkenalkan AI sejak usia dini akan membantu siswa mengembangkan pemikiran digital, kreativitas, dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kerja masa depan. Targetnya ambisius: sistem pendidikan AI yang lengkap dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat pada 2030. Kalau data ini bisa dipercaya, Tiongkok sedang membangun angkatan kerja berbasis AI yang paling terstruktur di dunia.
Strategi ini punya akar kalkulasi ekonomi yang solid. Pesatnya pertumbuhan manufaktur cerdas, perawatan kesehatan cerdas, dan konstruksi cerdas menciptakan permintaan nyata akan tenaga kerja yang tak sekadar melek teknologi, tapi benar-benar terampil di dalamnya. Para pakar meyakini kualitas sumber daya manusia akan jadi penentu: apakah momentum transformasi digital Tiongkok bisa dipertahankan, atau justru kehilangan tenaga di titik kritis.
Pertanyaannya, berapa lama negara lain bisa menunda respons serupa? Banyak negara masih terbelah antara menutup program studi lama yang dianggap usang atau pura-pura tidak melihat pergeseran pasar kerja yang sudah terjadi di depan mata. Tiongkok memilih jalur ketiga: tidak menutup apa-apa, tapi membangun dari bawah sambil berlari kencang.